Tradisi MANGANAN di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora

Pancasila telah menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Karakter yang terdapat dalam Pancasila meliputi nilai budaya, adat  istiadat, dan religiusitas yang diimplimentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jati diri bangsa indonesia melekat kuat melalui nilai-nilai tersebut yang dijadikan pandangan hidup.

Nilai-nilai Pancasila juga tercermin dari perilaku masyarakat Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, khususnya cerminan dari sila pertama yang berbunyi “ Ketuhanan Yang Maha Esa.” Hal ini dapat dilihat melalui upacara atau tradisi setempat yang dilakukan setiap satu tahun sekali, sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Perilaku masyarakat Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah melakukan makna sila pertama sebagaimana sesuai dengan pidato Presiden pertama Indonesia, Soekarno pada 1 Juni 1945 yang berbunyi “Marilah di dalam Indonesia merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima daripada negara kita ialah ke-Tuhanan yang berkebudayaan, ke-Tuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, ke-Tuhanan yang hormat- menghormati satu sama lain.”

Proses penyebaran Agama Islam di Indonesia sangatlah pesat dan beragam, contohnya penyebaran Agama Islam yang dibawa oleh Wali Songo pada zaman dahulu. Selain itu ada juga penyebaran yang dilakukan oleh tokoh lainnya, seperti Eyang Jatikusuma dan Eyang Jatiswara. Kedua tokoh ini merupakan putra (sentono dalem) dari Raja Kerajaan Pajang, yang pergi meninggalkan keraton dan mengembara hingga di daerah sekitar Kabupaten Blora, dan sebagian Kabupaten Bojonegoro. Selain menyebarkan Agama Islam, Eyang Jatikusuma dan Eyang Jatiswara juga melakukan bertapa di bukit batu yang berada di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pada saat mereka bertapa, mereka mendapatkan ilham, sehingga Eyang Jatikusuma dan Eyang Jatiswara menetap di Desa Janjang. Setelah keduanya wafat, daerah sekitar tempat pertapaan Eyang Jatikusuma dan Eyang Jatiswara didirikan tempat ibadah, serta didirikan pula kompleks pemakaman guna dilakukan ziarah oleh masyarakat sekitar.

Setiap setahun sekali pada bulan tertentu pada hari Jumat Pon (penanggalan Jawa) diadakan Manganan atau Sedekah Bumi, biasanya Manganan atau Sedekah Bumi ini dilakukan setelah masa panen. Kegiatan Manganan ini merupakan simbol ungkapan syukur dari masyarakat sekitar kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan Manganan merupakan cerminan Nilai Pancasila.

Kegiatan Manganan ini dilakukan di kompleks pemakaman Eyang Jatikusuma dan Eyang Jatiswara, dan dilakukan oleh warga Desa Janjang dengan membawa nasi dan bumbu-bumbu ke bangsal di komplek pemakaman Eyang Jatikusuma dan Eyang Jatiswara, yang selanjutnya akan didoakan dan disedekahkan kepada semua pengunjung yang datang diacara tersebut. Panitia juga melakukan penyembelihan sapi dan kambing yang letaknya tidak jauh dari lokasi makam. Daging sapi dan kambing tersebut juga dimasak untuk dibagikan kepada semua pengunjung yang datang pada acara Tradisi Manganan Janjang. Selain itu juga diadakan  pertunjukan seni Wayang Krucil di salah satu bangsal komplek pemakaman tersebut.

Prosesi Manganan atau Sedekah Bumi di Janjang ini dilakukan sejak hari Selasa Kliwon (penanggalan Jawa) di minggu yang sama dengan hari Jumat Pon, Mulai hari Selasa tersebut digelar pertunjukan Seni Barongan dan Tembang-Tembang Jawa diiringi tetabuhan Gamelan. Selanjutnya pada hari Rabu malam diisi dengan kegiatan pengajian umum di desa setempat. Pada hari Kamis malam diadakan kegiatan ziarah yang dilakukan oleh masyarakat sekitar ataupun pengunjung luar daerah yang ingin berziarah dan tahlilan bersama di komplek pemakaman Eyang Jatikusuma dan Eyang Jatiswara. Kedua tokoh ini merupakan putra Sultan Pajang, sesepuh sekaligus penyebar agama Islam di wilayah setempat. Pada puncak acaranya yakni hari Jumat, sejak pagi hingga sore hari diadakan Manganan atau Sedekah Bumi serta terdapat pertunjukan seni yaitu pertunjukan Wayang Krucil. Wayang Krucil sendiri adalah kesenian lokal yang berasal dari Desa Janjang dan diwariskan secara turun-temurun dan selalu dipentaskan pada saat digelar tradisi Manganan Janjang. Wayang ini unik, karena terbuat dari kayu yang pipih. Pentasnya hanya diiringi alat musik gendang, gambang, gong, saron dan kecrek, tanpa disertai dengan adanya pesinden seperti pada pementasan wayang kulit lainnya. Selain itu menurut Bapak Halim Budiono, selaku Sekertaris Desa dan Panitia, pada pementasan Wayang Krucil juga memiliki keunikan tersendiri yaitu jika ada seseorang yang memiliki nazar (atau keinginan), dan bila nazar (atau keinginan) tersebut telah tercapai maka orang tersebut melepaskan nazarnya dengan mencabut bulu yang terdapat di Wayang Krucil tersebut(mbethot tepat tuan).

Tradisi Manganan Janjang merupakan kegiatan praktek budaya sebagai akar Pancasila dan kegiatan tersebut berkaitan dengan nilai Pancasila dari sila ke 1 yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Tradisi Manganan memiliki makna bahwa masyarakat Indonesia mempercayai adanya Tuhan maha Esa, dan dalam tiap tradisi dalam masyarakat merupakan proses ibadah atau menyembah kepada Tuhan yang mereka yakini.

Kontributor: Lukas Bagus Sutejo

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top