Si Empirik

Sepasang suami istri akademisi berkendaraan ke daerah pedesaan. Melewati sebuah padang dimana banyak ternak sedang merumput. Si istri tiba-tiba berseru, “Oh, lihat domba-domba itu bersih rapih, barusan dicukur.” Si suami menengok sejenak dan menimpali, “Ya, disisi yang sebelah sini.” Eits, tunggu dulu, mungkin juga tidak semua domba itu sedang merumput ketika diamati !

Lelucon ini bisa memberi gambaran bagaimana seorang empiris membuat penyimpulan dari fakta-fakta ketat hanya dari yang sungguh-sungguh teramati. Marilah kita periksa, bagaimana keduanya berangkat dari fakta pengamatan yang sama, namun tiba di kesimpulan yang berbeda.

Kendaraan yang mereka tumpangi bergerak disatu sisi jalan, sementara kelompok domba-domba yang merumput disisi lainnya. Si istri menyimpulkan hasil pengamatannya dengan”menambahkan” pengalaman lain dikepalanya, bahwa belum pernah ada petani yang mencukur hanya satu sisi domba-dombanya. Bahkan, kalau pun benar demikian kasus ini, sangat kecil kemungkinannya sisi-sisi yang dicukur itu secara persisi berada pada posisi pengamatan, mengingat tenyata bahwa domba-domba itu ada yang menghadap ke barat dan ada yang ke timur. Sementara itu, bagi si suami perlu kehati-hatian agar tida membuat kesimpulan yang melampaui fakta pengamatan.

Bagaimana pun, tidak kedua sisi domba-dombat dapat diamati. Artinya, dalam menyimpulkan sang suami bertolak dari pengamatan inderawi langsung. Sementara si istri memperhitungkan pengalaman-pengalaman terdahulu.

Menurut anda, kesimpulan mana yang benar? Atau katakanlah yang punya tingkat kemungkinan kebenaran yang paling besar? Berikan argumentasi anda!

(Sumber: Berfilsafat dengan anekdot: Plato Ngafe Bareng Singa Laut)

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top