Pua Mnasi Manu Mnasi Sebagai Praktik Keadilan Sosial di Masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan

Indonesia adalah negara yang mendasarkan pada politiek-economische yaitu demokrasi yang mendatangkan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya, negara yang mendasarkan pada prinsip bahwa tidak akan ada kemiskinan dalam negaranya (Risalah sidang BPUPKI, 1998:71), sehingga masyarakat merasa berkecukupan makanan, pakaian, memiliki kesejahteraan atau seperti yang dikatakan Presiden Soekarno “merasa dipangku oleh ibu pertiwi”. Pokok dari keadilan sosial muncul dari sebuah perenungan panjang dan satu rasa penderitaan karena ditindas, dihina dan dikuras kekayaannya oleh bangsa penjajah. Pokok ini dituangkan dalam pancasila yang menjadi dasar dan pedoman bangsa Indonesia sebagai suatu negara. Namun jika ditelusuri lebih jauh, dasar keadilan sosial sebenarnya sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagi segenap rakyat indonesia. Kebiasaan – kebiasaan ini sudah dijalankan oleh daerah dan suku-suku jauh sebelum indonesia merdeka. Kita bisa berkaca dari semua adat dan budaya yang ada di indonesia, seperti Upacara Nogunti Vo pada masyarakat To Kaili Rai yang pada pelaksanaan upacara adatnya setiap orang mendapatkan perlakuan dan penghargaan yang sama dari setiap masyarakat, bahkan Ritual Sadranan pada tradisi Jawa lebih luas lagi cakupan konsepnya, dimana ritual ini bermaksud untuk mempromosikan nilai-nilai keadilan sosial dalam perspektif gender dan peduli terhadap kelestarian lingkungan. Konsep keadilan sosial juga dapat dicermati pada adat “Pua mnasi Manu Mnasi” di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa
Tenggara Timur yang wilayahnya berbatasan dengan kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Kupang. Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam historisnya terdiri dari 3 (tiga) suku besar atau yang dikenal Swapraja yang dibagi berdasarkan kekuasaan kerajaan masa lalu. Ketiga suku tersebut adalah Swapraja Amanuban, Swapraja Mollo dan Swapraja Amanatun. Ketiga suku ini konon berasal dari satu nenek moyang yaitu suku Dawan atau yang umum disebut ‘Atoin Meto’. Suku Dawan ini kemudian berkembang memenuhi Pulau Timor secara keseluruhan dengan berbagai latar belakang dan wilayah kekuasaan mereka.

Pua Mnasi Manu Mnasi” (Pua: Pinang, Mnasi: tua, Manus: sirih) secara harfiah berarti pinang tua sirih tua, namun pada kenyataannya kalimat atau ungkapan ini tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia karena tidak mengandung makna yang sebenarnya dari adat dan budaya ini (J. Lopo, Hasil Wawancara. 2020, November 29). Hal ini lumrah di indonesia, ada banyak sekali kata/kalimat/ungkapan dalam bahasa daerah yang tidak dapat diterjemahkan ke bahasa indonesia karena akan menghilangkan makna aslinya. Pua Mnasi Manu Mnasi adalah salah satu bagian dari adat perkawinan dalam tradisi Atoin Meto yang wajib dilakukan oleh pasangan-pasangan yang akan menikah karena dipercaya mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan bagi yang melakukannya sedangkan bagi yang tidak mentaati atau melaksanakan budaya ini diyakini akan mendatangkan kesulitan dalam perjalanan kehidupan mereka dari generasi ke generasi.

Budaya Pua Mnasi Manu mnasi adalah salah satu bagian adat perkawinan orang timor. Sebelum adat Pua Mnasi Manu mnasi dijalankan biasanya pasangan nikah akan terlebih dahulu melaksanakan adat Pua makuke Maun Makuke atau yang biasa dikenal dengan ‘peminangan’. Pada tradisi peminangan ini, kedua orang tua dan keluarga dari calon pengantin wanita akan memberikan kesempatan kepada keluarga pengantin pria untuk melakukan peminangan kepada keluarga perempuan. Keluarga pria akan menjalankan adat peminangan ini dan jika hal itu dilakukan maka kedua calon pengantin dikatakan telah menikah secara adat yang disaksikan oleh kedua keluarga besar, pemerintah, toko adat dan para undangan. Setelah acara peminangan maka keluarga besar perempuan akan mempersilahkan kepada kedua calon pengantin untuk melakukan pernikahan secara agama dan pemerintah. Jika hal ini dilakukan maka pasangan nikah ini akan menjalankan kehidupan rumah tangganya untuk mencari nafkah demi kesejahteraan rumah tangganya. Meskipun demikian, menurut adat orang timor orang tua dan keluarga mempelai wanita belum menyerahkan hak sepenuhnya kepada mempelai laki-laki dan keluarganya. Kedua orang tua masih mempunyai hak-hak secara adat kepada mempelai wanita sampai benar – benar kedua mempelai bisa hidup mandiri untuk mengurus rumah tangga mereka. Apabila kedua mempelai merasa bahwa mereka sudah mampu dan bisa hidup mandiri untuk mengurus rumah tangganya, maka keluarga ini akan memohon kepada keluarga perempuan untuk memberikan penghargaan atau membalas budi kepada kedua orang tua yang membesarkan dan mengasuh mereka. Ini sebagai bukti bahwa keluarga besar ini sudah mandiri dan terlepas dari pengawasan orang tua dan keluarga. Wujud penghargaan inilah yang disebut dengan Pua Mnasi Manu Mnasi.

Nilai penting dari dari adat pua mnasi manu mnasi adalah keluarga mempelai wanita memberikan motivasi dan semangat kepada keluarga baru yang terbentuk agar bekerja keras untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya tetapi juga tetap mengingat kedua orang tua yang membesarkan mereka (W. Lopo, Hasil Wawancara. 2020, November 27). Untuk menjalankan adat Pua Mnasi Manum Mnasi tidak serta merta dilakukan begitu saja tetapi ada berbagai syarat penting yang harus dipenuhi baik itu orang tua dari mempelai wanita maupun orang tua dari mempelai pria. Untuk orang tua mempelai wanita, syaratnya adalah kedua orang tua wanita sudah melakukan adat Pua Mnasi manum Mnasi kepada nenek dan kakek mempelai wanita sedangkan untuk orang tua mempelai pria, kedua orang tua mempelai pria sudah melakukan adat Pua Mnasi Manu Mnasi kepada nenek dan kakek mempelai pria. Syarat inilah yang biasanya memberatkan mempelai pria untuk menjalankan adat ini dengan cepat bahkan merupakan tantangan tersendiri bagi orang timor dari generasi ke generasi. Bahkan pada suatu titik tertentu generasi penerus tidak mengetahui secara pasti kepada siapa mereka akan memberikan penghargaan itu. Jika sebuah keluarga tidak tahu pasti kepada siapa mereka memberikan penghargaan itu, dan secara acak memasukan adat ini dan jika dikemudian hari diketahui salah memasukan maka orang timor mempercayai bahwa akan mendatangkan nasib sial bagi keluarga tersebut. Apabila semua persyaratan telah terpenuhi baik keluarga besar mempelai pria dan mempelai wanita maka adat pua mnasi manum mnasi bisa dilakukan. adat pua makuke maun makuke dan pua mnasi manum mnasi bisa dilakukan sekaligus apabila persyaratan tersebut di atas bisa terpenuhi baik keluarga laki-laki maupun keluarga perempuan (A. Sanam, Hasil Wawancara. 2020, November 28).

Jika semua persyaratan adat yang disebutkan di atas telah terpenuhi maka budaya Pua
Mnasi Manu Mnasi s
udah bisa dilaksanakan. Biasanya pihak keluarga akan bertemu dan
membicarakan beberapa hal seperti persyaratan adat, bentuk penghargaan, siapa saja yang berhak mendapat penghargaan, waktu, tempat, anggaran dan jumlah undangan. Pua Mnasi Manu Mnasi dikemas dalam bentuk penghargaan atau bingkisan yang diberikan oleh keluarga besar dari anak perempuan yang sudah menikah. Adapun penghargaan atau bingkisan yang ditujukan kepada orang tua dan keluarga perempuan adalah: Penghargaan kepada orang tua kandung yaitu ayah kandung dan ibu kandung, Penghargaan kepada orang tua kandung berupa air susu ibu, Penghargaan kepada kakek dan nenek dari ibu kandung, Penghargaan kepada saudara dari ibu kandung, Penghargaan kepada saudara kandung, Bingkisan kepada Bapak saksi dan mama saksi dari keluarga perempuan saat menikah, Penghargaan kepada pihak pemerintah sebagai saksi, Penghargaan kepada pihak Gereja sebagai saksi, Penghargaan kepada Tokoh Adat sebagai saksi, Penurunan atau pencabutan marga perempuan dan penyematan marga laki-laki (J. Lopo, Hasil Wawancara. 2020, November 29).

Bingkisan yang dipersiapkan oleh keluarga biasanya diatur sesuai struktur/hirarki keluarga yang menganut sistem patrilineal. Proses budaya Pua Mnasi Manu Mnasi dari keluarga perempuan akan diwakilkan oleh salah seorang jubir. Jubir keluarga adalah orang yang harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan keluarga dan bisa natoni atau ‘pantun berbalas-balasan’, natoni ini bisa dibayangkan seperti pantun pada tradisi pernikahan masyarakat betawi. Namun yang unik dari natoni ini kita hanya dapat menangkap makna dari apa yang dikatakan jubir –bahkan orang timor asli pun tidak dapat mengerti, sedangkan untuk menerjemahkan setiap kata perkata sangat sulit dan mustahil karena bahasa yang digunakan adalah bahasa pantun yang hanya dapat dimengerti oleh kedua jubir. Menurut cerita dari narasumber, orang yang bisa melakukan natoni adalah orang-orang yang terpilih secara adat, bahkan meskipun masih dikategorikan anak-anak tetapi mereka dapat berbicara selayaknya orang dewasa.

Bentuk dan nilai penghargaan atau bingkisan yang ditujukan kepada keluarga perempuan harus memenuhi rasa kewajaran, keadilan dan rasa kemanusian sesuai struktur/hirarki keluarga besar. Adapun gambaran tentang isi bingkisan dari keluarga sebagai berikut :

1.Bingkisan untuk orang tua kandung
Orang tua kandung yang bertanggungjawab atas kehidupan seorang anak karena itu
penghargaan yang diberikan harus benar-benar memenuhi rasa keadilan dan kemanusiaan. Biasanya orang Timor tidak menuntut dalam jumlah besar tetapi yang paling penting adalah makna budaya yang akan membuat kedua anak mereka memiliki keselamatan kebahagiaan di kelak nanti. Penghargaan yang diberikan dalam bentuk uang secukupnya dan barang berupa selimut, sarung, kemeja dan barang berharga lain seperti cincin, anting-anting. Selain bingkisan untuk orang tua, ada satu bingkisan yang juga penting berupa air susu ibu yang tentunya dihargai dalam bentuk uang secukupnya.

2.Penghargaan kepada Kakek dan Nenek dari ibu kandung

Penghargaan kepada kakek dan nenek dari ibu kandung merupakan salah satu bentuk penghargaan yang harus dilakukan karena orang Timor menganggap bahwa kakek dan nenek adalah sumber kehidupan atau sumber berkat yang menghadirkan ibu kandung mereka.Penghargaan biasanya berupa uang dan barang (selimut, sarung yang selalu berpasangan).

3.Penghargaan kepada saudara laki-laki dari ibu kandung
Penghargaan kepada saudara laki-laki dari ibu kandung atau biasanya disebut Om harus
dilakukan karena merekalah yang bertanggung jawab terhadap saudara perempuan. Penghargaan biasanya berupa uang dan barang. Semua saudara laki-laki yang ada harus diberikan penghargaan. Besar dan nilai barang yang diberikan biasanya disesuaikan struktur keluarga.

4.Penghargaan kepada Saudara Kandung
Penghargaan kepada Saudara kandung sangat penting menurut orang Timor karena mereka adalah penerus generasi dari orang tua mereka dan mereka akan bertanggungjawab penuh terhadap saudara perempuan dalam suka dan duka. Semua saudara laki – laki haruslah diberikan penghargaan sesuai dengan urutan mereka. Besar dan nilai barang yang diberikan juga harus memenuhi rasa keadilan, kewajaran dan kemanusian.

5.Penghargaan kepada bapak dan mama saksi saat pernikahan.
Penghargaan kepada bapak saksi dan mama saksi diperlukan karena merekalah yang senantiasa mendukung, menasihati sehingga perjalanan keluarga ini bisa berjalan dengan langgeng. Besar dan nilai barang biasanya disesuaikan misalnya mereka diberikan sarung dan selimut.

6.Penghargaan kepada Tokoh Adat, Tokoh Agama dan Pemerintah
Penghargaan kepada Pemerintah, Tokoh Adat, Tokoh Agama merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada sesepuh yang turut menyaksikan prosesi adat ini mulai dari awal sampai selesai. Penghargaan kepada mereka sebagai bukti bahwa prosesi adat ini telah berlangsung sesuai dengan makna budaya yang diyakini kebenarannya

7.Penurunan atau pencabutan marga perempuan.
Budaya Pua Mnasi dan Manu Mnasi adalah suatu tradisi dimana anak perempuan dan keluarganya sudah mandiri karena itu harus dilakukan penurunan marga atau pencabutan marga sehingga tidak menjadi tanggungjawab dari keluarga perempuan. Ini hanya kiasan yang artinya tidak benar – benar menghilangkan marga tetapi hanya memindahkan tanggungjawab dari keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki. Besar dan bentuk penghargaan disesesuaikan dengan kemampuan keluarga.

Selain bingkisan yang diberikan oleh keluarga laki-laki, keluarga perempuan akan membalas bingkisan dengan berbagai bentuk penghargaan seperti selimut, sarung secara berpasangan kepada kedua orang tua dari keluarga laki-laki selain itu sejumlah barang peralatan rumah tangga, dan barang kebutuhan yang dipersiapkan untuk diberikan kepada anak perempuan mereka seperti piring, periuk, sendok, lemari dan lain-lainnya. Ini hendak menunjukan bahwa orang tua mempunyai rasa tanggungjawab kepada anak mereka sebelum melepas anak mereka.

Keadilan yang ditunjukan dalam adat Pua Mnasi Manu Mnasi sangat mencirikan
kehidupan bangsa indonesia dalam sila ke – 5 pancasila, tak tanggung-tanggung adat ini dapat menjadi promosi keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Perasaan untuk membagikan kepada setiap orang bingkisan yang memenuhi rasa keadilan yang dibungkus dalam adat ini merupakan inti dari adat Pua Mnasi Manu Mnasi, bahkan ketika konsep keadilan dilihat dari perspektif penghargaan terhadap orang yang lebih tua yaitu memberikan bingkisan dengan nilai dan berbeda berdasarkan hierarki/struktur dari keluarga adalah keadilan yang sejati yang diperlihatkan pada adat Pua Mnasi Manu Mnasi. Maksudnya adalah keadilan harus merata kepada semua orang, tetapi keadilan yang ditunjukan juga tidak boleh melanggar norma yang sudah ada seperti penghargaan terhadap orang yang lebih tua, artinya harus jalan beriiringan.

Catatan:

A. Jika laki-laki Timor mendapatkan calon istri dari suku lain maka ia harus mengikuti adat dari wanita suku tersebut. Biasanya keluarga wanita menginginkan dilakukan adat sesuai tradisi mereka maka Pria Timor harus mengikuti tradisi itu. Namun demikian jika Keluarga laki-laki Timor ini belum melakukan adat Pua Mnasi Manu Mnasi maka Keluarga laki-laki harus meminta restu dari orang tua dari keluarga ibunya untuk melakukan adat. Keluarga dari laki-laki akan tetap mengijinkan dengan perjanjian bahwa kewajibannya memenuhi adat pua mnasi manum mnasi tetap dilaksanakan pada waktu-waktu yang akan datang.

B. Jika wanita Timor mendapat calon suami dari suku lain sementara keluarga si wanita belum menjalankan kewajiban adat pua mnasi manum nasi maka otomatis keluarga si laki-laki belum bisa melakukan adat pua mnasi manum mnasi. Apabila dipaksakan untuk dilakukan maka diyakini akan ada cobaan yang akan dihadapi.

C. Pada dasarnya suku Timor yang tersebar di berbagai tempat memiliki tradisi perkawinan yang sama yaitu pua makuke maun makuke dan pua mnasi manum nasi namun tata cara melakukannya seringkali berbeda, sebagai contoh suku timor dari wilayah mollo akan berbeda dengan suku timor dari wilayah Amanuban dan berbeda juga dengan suku Timor dari wilayah Amanatun. Perbedaan ini akan terlihat dari susunan acara, jumlah bingkisan, nilai dan jenis bingkisan bahkan kata-kata pantun yang akan dilantunkan pada acara tersebut.

Kontributor: Joanito Agili Lopo

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top