PANTUN JADI WARISAN DUNIA

Kabar gembira datang dari UNESCO, dimana dalam sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO di Paris, Kamis 17 Desember 2020 secara resmi Pantun ditetapkan sebagai warisan dunia. Pantun, yang merupakan bentuk “puisi tradisional” bangsa berumpun Melayu akhirnya diakui sebagai world heritage, dalam kategori warisan budaya tak-benda. Pantun juga menjadi  yang pertama terdaftarkan di lembaga PBB untuk pendidikan dan kebudayaan itu sebagai warisan bersama dua negara berumpun Melayu, yaitu Indonesia dan malaysia. 

Pada laman resmi UNESCO (https://ich.unesco.org/en/RL/pantun-01613) dijelaskan antara lain, pertama;  Pantun sebagai salah satu bentuk syair Melayu yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan emosi yang ruwet, serta dapat ditularkan dalam bentuk musik, lagu, dan tulisan. Kedua; Tujuh puluh persen syair dikhususkan untuk mengungkapkan cinta dari pasangan romantis, keluarga, komunitas, dan alam. Syair-syair bisa dibacakan pada pesta pernikahan, ritual adat dan upacara resmi. Ketiga; Pantun menawarkan cara yang diterima secara sosial untuk mengekspresikan diri secara tidak langsung dengan cara yang sopan. Juga sebagai instrumen pedoman moral karena ayat-ayat sering mengandung nilai-nilai agama dan budaya seperti pengekangan, rasa hormat, kebaikan dan kerendahan hati. Keempat; Pantun digunakan sebagai bentuk diplomasi penyelesaian konflik karena menawarkan cara lembut untuk mengangkat isu-isu penting. UNESCO menyebutkan bahwa pantun diajarkan secara formal di sekolah, bengkel seni, dan melalui cara-cara informal.

Menurut saya seharusnya Pantun memiliki narasi yang jauh lebih kaya dari itu. Saya ingat beberapa tahun lalu, dalam sebuah lontaran ringan seorang teman menyebutkan bahwa bahasa Perancis merupakan bahasa paling indah di dunia. Saya mengatakan tidak bisa dipastikan, tetapi saya memiliki alasan untuk menominasikan bahasa Indonesia, sekiranya hal macam itu dimungkinkan.  Ketika itu saya langsung menyebut keindahan dan kekayaan ekspresi verbal dan spontan masyarakat Indonesia (khususnya yang berumpun Melayu) melalui pantun.  Pantun merupakan bentuk ekspresi mendasar dan total dari masyarakat Indonesia, yang menggambarkan ciri khas  manusia dengan kekayaan estetik, filosofis, etis moral, juga kecerdasan intelektual. 

Sebagai bentuk “puisi tua,” seperti disebutkan dalam inskripsi UNESCO telah digunakan setidaknya sejak 500 tahun lalu, Pantun memiliki daya pikat sebagai “fasilitator pesan” yang efektif.  Isi pesan dari sebuah pantun dapat berupa pengetahuan, nasehat, ajaran moral agama dan pemujaan kepada Tuhan, sopan santun, menghargai alam, dan sebagainya.  Isi pesan  Pantun sangat kaya dan beragam. Oleh sebab daya pikat instrumentalnya pesan melalui Pantun mudah dipahami dan diterima tanpa penolakan.  Bentuk penolakan memang ada,   namun ditampilkan juga dalam bentuk Pantun, sehingga terjadi saling berbalasan. Disitulah keindahan atau daya pikatnya dipresentasikan, tetapi bukan satu-satunya.  

Daya pikat atau sisi keindahan lainnya adalah tampilannya.   Sebagai bentuk puisi, Pantun bukanlah puisi biasa yang “hanya” mengandaikan keliaran imajinasi dan keindahan pengungkapan. Keindahan, sekaligus tantangan Pantun sebagai puisi adalah terikat pada rumusan baku, seperti jumlah kata, baris (bait), dan keteraturan.  Antara lain, jumlah baris hanya empat atau kadang enam (terutama pantun Minangkabau), jumlah kata antara 4-12, lalu menggunakan prinsip berirama a-b-a-b atau a-a-a-a. Maksud dari prinsip ini adalah, ada kesamaan bunyi antara kalimat (baris) pertama dengan  ketiga, kedua dan keempat, atau keempat kalimat berakhir dengan bunyi ucapan yang sama.

Secara garis besar, tubuh sebuah Pantun terdiri dari dua bagian, yaitu Sampiran dan Pesan (isi). Sampiran adalah “pengantar” meliputi bait 1 dan 2, diikuti isi pesan di baris 3 dan 4. Semakin sinkron kesamaan bunyi antara sampiran dengan pesan (bait 1 dengan 3 serta 2 dengan 4), semkin indah dan berkualitas Pantun tersebut. Disinilah berlaku rumus berirama a-b-a-b / a-a-a-a. Contoh klasik salah satu pantun muda mudi seperti berikut:

Dari mana datangnya LINTAH,

Dari SAWAH turun ke KALI

Darimana datangnya CINTA

Dati MATA turun ke HATI

Pantun klaisk lainnya yang berisi nasehat agar rajin dan bekerja keras sebagai berikut:

Berakit-rakit ke HULU

Berenang-renang KE TEPIAN

Bersakit-sakit DAHULU

Bersenang-senang KEMUDIAN

Kedua pantun klasik itu memiliki semua syarat ber-pantun, baik dari isi pesan, keteraturan maupun nilai estetikanya.  Lihat bagaimana kesamaan bunyi antara bait-bait  Sampiran dan Isi pesan membentuk “kemerduan lirik,” sekaligus kekuatan (kekayaan) pesan.  

Kerapkali, kesamaan bunyi suku kata terakhir pun sudah bisa dijadikan ukuran minimal Pantun. Meski, seperti sudah disebutkan, semakin banyak kesamaan bunyi antara Sampiran dan Pesan semakin indah Pantun itu.  Berikut contoh pantun dengan irama a-a-a-a-, yang saya kutip dari laman saintif.com (https://saintif.com/pantun-adalah/). Disebutkan sebagai pantun adat, tetapi menurut saya masuk kategori kontemporer  berdasarkan isi pesannya:

Manis madu semanis GULA
Madu dimakan enak RASANYA


Seribu pulau seribu BUDAYA
Jadi kebanggaan INDONESIA

Contoh lain yang disebut sebagai pantun teka teki:

Bukan karung tapi BERISI
Berbau khas dan tidak AMIS

Coba tebak apakah INI?
Ekor dibakar kepala yang HABIS
 

Nah, jenis ini menantang kecerdasan.  Bisakah dibayangkan bahwa ternyata kebiasaan “asah kecerdasan” telah menjadi keseharian nenek moyang bangsa Indonesia?  By the way, dapatkan Anda menebak jawaban teka teki itu? 

 

Berikut contoh berbalas pantun muda/mudi, yang saya kutib dari Erizal Gani, “Kajian Terhadap Landasan Filosofi Pantun Minangkabau.”

Apa guna tali direntang

Baik digulung daripada disambung

Apa guna berkasih sayang

Jika tepuk tidak berbalas

Balasan si abang atas pantun dinda yang galau, putus harap lantaran lama menanti:

Bukan saya tidak merasa

Bukan saya berpaling hati

Takut adik akan tersiksa

Rasa remuk karena menanti

Cobalah Anda tebak, apa makna jawaban si Abang melalui pantunnya?  Apakah dia memberi harapan, atau menggantung hubungan? Pastinya tidak tersirat jawaban penolakan, bukan?   Guna memastikan tebakan Anda benar atau salah, inilah balasan pantun dinda:

Lurus jalan ke Payakumbuh

Terus jalan ke Tanjung Pati

Jika hati sama ingin

Kering lautan kita nanti

Dalam “permainan” berbalas pantun, misalnya di kalangan muda mudi, atau acara-acara adat, misalnya dalam peminangan pasangan, para pihak (biasanya dua pihak) saling berhadap-hadapan.  Secara spontan mereka akan “beradu akal,” yang mungkin dalam tradisi Barat disebut sebagai “debat.”  Tetapi, perbedaan esensial debat  dengan berbalas Pantun adalah, dalam debat “hukum logika” menjadi ukuran tunggal, disertai bukti-bukti /data pendukung. Dalam tradisi berbalas Pantun, yang dituntut bukan sekadar logika, tetapi juga keindahan atau nilai astetiknya, disebabkan karena Pantun terikat pada rumus seperti sudah disebutkan.   Namun, tidak sekadar itu. Pantun memiliki pesan, dan pesannya harus bermanfaat. Sebuah pantun dianggap tidak berkualitas (bahkan bukan pantun) apabila tidak memiliki pesan bermanfaat, atau pesannya tidak sesuai dengan “isu/tema” yang sedang “dibahas.”  Prasyarat yang terakhir ini tidak berlaku untuk generasi sebelumnya, dimana Pantun masih menjadi “motor penggerak komunitas,” yang beroperasi / diperoleh sebagai “hukum alam” karenanya memiliki persisi tinggi.  Disebabkan generasi terakhir ini telah hampir tercerabut dari “tradisi berpantun” warisan cerdas leluhur, persyaratan itu saya cantumkan untuk dijadikan acuan pembelajaran.  Saya memandang perlu disebabkan membaca sejumlah pantun “kontemporer” yang sangat longgar sehingga keindahan estetik maupun isi pesannya berantakan. Termasuk yang kerap disampaikan oleh para politisi (tentu tidak semua), terkesan dangkal dan asal comot. Tidak layak disebut pantun!

Pantun dan Pengetahuan

Sedikit diantara kita menyadari, bahwa Pantun juga memfasilitasi proses pengetahuan. Bahkan, Pantun merupakan “media pendidikan tradisional” nenek moyang kita. Terutama pengetahuan dan kearifan lokal. Seorang pemantun yang baik nampaknya harus memiliki kepekaan terhadap sifat-sifat manusia dan relasinya, tumbuham hewan dan sebagainya, bahkan “peta wilayah” dimana dia berada, yang semuanya itu akan dijadikan sumber utama “ramuan” Pantun.  Ia mau tidak mau mengobservasi lingkungan sekitar, termasuk kekayaan hubungan dengan Pencipta.  

Dalam “forum” berbalas Pantun, kekayaan pengetahuan itu diperlukan. Mengingat penyampaian pantun bersifat spontan, pengetahuan sudah harus menyatu (terinternalisasi) secara mendalam.  Sebab, spontanitas Pantun tidak memungkinkan pengetahuan dangkal sekadar hafalan. Berada dalam tegangan kemendesakan, seorang pemantun harus terbiasa mengembangkan imajinasi, kreatifitas,  dan spontanitas meramu bait-bait manjur guna “membalas” pantun lawan.  Apalagi pantun berbalas muda-mudi akan menjadi persaingan yang penuh tantangan namun mengasyikkan sehingga mendorong para muda mudi memperluas wawasan dan pengetahuan agar menjadi pemantun yang baik.

Lantaran pantun dipresentasikan dalam bentuk “permainan,”  tegangan-tegangannya tidak terasakan sebagai “perang urat sayaraf” sebagaimana dalam debat,  melainkan “perang kecerdasan, estetika dan kesantunan moral.”  Pantun bisa saja mengorek sebuah borok secara meyakinkan (biasanya dalam acara-acara adat, pemeriksaan perkara secara adat), namun dengan cara yang sangat halus dan bijak sedemikian sehingga tidak semua orang dapat memahaminya melainkan pihak terkait saja.  Kalaupun beragam orang hadir, yang memahami pesan hanyalah mereka yang terikat dalam konteks yang sama.

Pantun mengajarkan kita menggunakan kata secara efektif. Disebabkan bait-bait dan katanya terbatas, pilihan kata sangat ketat selain menjmain runtun logisnya juga runtun estetiknya.  Artinya, pemantun harus terlatih melakukan pemilihan kata yang kaya makna, sekaligus kaya estetik. Dengan demikian ia terlatih berpikir cepat dan asosiatif. Fungsi otak kiri dan kanan sekaligus dioperasikan. Hal ini tentu tidak mudah, sebab ia mengelola Sampiran sekaligus memastikan Isi pesannya sesuai. 

Lewat tradisi berpantun yang digunakan hampir dalam setiap aktivitas masyarakat, anak-anak muda terlatih dan belajar.  Mereka menyerap pengetahuan, nasehat bijak, filsafat moral, mengasah akal,  hiburan (jenaka), dan sebagainya. 

Pengembangan Pantun dan Manfaatnya

Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Kementerian Desa, juga Kementrian Pariwisata sebaiknya berkolaborasi untuk mendorong dan merevitalisasi dan mengkonservasi Pantun sebagai secara masif. Akar-akarnya masih kuat tertanam dalam kebiasaan masyarakat, meski sudah pudar. Kecuali Minangkabau yang memang terkenal budaya pantunnya, nampak masih cukup kental. Minagkabau pantas disebyut sebagai “kota Pantun.”  Di wilayah-wilayah Indonesia Timur pantun muncul dalam lagu-lagu atau permainan (tari-tarian dengan lagu), yang didalamnya terdapat semacam kegiatan berbalas pantun.  Artinya, pantun memiliki akar yang kuat dalam praktek hidup sebagain besar masyarakat Indonesia. Ini modal sosial.

Dengan mengkonservasinya Pantun kembali hadir sebagai “media pendidikan masyarakat” sebagaimana hakikatnya. Pantun kontemporer akan dicirikan oleh sampiran dan isi yang semakin kaya seiring berkembangnya kebutuhan peradaban serta perubahan filosofis.  Artinya akan terjadi reproduksi sebagai implikasi logis dari perkembangan intrumen-intrumen kebutuhan manusia yang memfasiltasi kehidupan. Namun, banyak Pantun, terutama misalnya pantun nasehat, pantun teka teki dan lainnya memiliki pesan yang masih relevan dan kuat.

Pernahkah kita bayangkan, lomba berbalas pantun “disajikan” untuk turis domestik maupun macna negara?  Apalagi turis dari negara-negara serumpun (Melayu). Bila dipresentasikan dalam bentuk lagu berbalas pantun  muda/mudi sungguh sangat menarik karena sifatnya juga partisipatif, dimana terbuka bagi pengunjung untuk terlibat. Bila dibiasakan menjadi tradisi, generasi muda kita akan terlatih menjadi cerdas (secara holistik), juga bijaksana dan santun (beradan dan bermoral). 

Pengembangan Pantun akan membantu manusia penggunanya kembali mengeskplorasi alam lingkungan maupun sosialnya. Mengeksplorasi perkembangan teknologi dan peradaban modern. Ini disebabkan karena untuk menciptakan Pantun berkualitas seseorag harus bisa berpikir asosiatif, metaforik, dan spontan.  Semakin banyak ia mengeksplorasi semakin fasih ia berpantun.  Lewat pantun, orang juga akan menjadi arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Bentuknya bisa pengajaran pantun di sekolah-sekolah (tingkat dasar sampai tinggi), permainan berbalas pantun anak, remaja dan pemuda, pantun jenaka, pantun teka teki, alam, dan sebagainya. Acara-acara adat juga direvitalisasi, misalnya bentuk-bentuk peminangan dan penyelsaian masalah-masalah lokal secara adat. Dalam peminangan misalnya, Pantun telah dimulai sebagai bentuk “ketuk pintu” dari keluarga pihak pria di “rumah” pihak wanita.  Kesalahan mengetuk pintu, dalam pengertian kesalahan meramu makna pembuka dapat berakibat fatal, alias pintu tidak akan dibukakan. Bahkan, bisa saja terus tertutup dalam artian hubungan batal. Ini menunjukkan fungsi vital dari pantun yang merepresentai  “gengsi sosial” yang mencakup kecerdasan, keluasan wawasan, keluhuran budi dan kebijaksanaan.  

Seseorang memiliki martabat sosial yang tinggi apabila ia mampu berpantun dengan baik. Itulah sebabnya, diterimanya Pantun oleh UNESCO sebagai warisan dunia dalam bidang pendidikan dan kebudayaan patut kita banggakan. Bentuk “sekolah tradisional” masyarakat rumpun Melayu ini diakui memiliki kekayaan yang dapat dikontribusikan bagi peradaban dunia. (SL)

Salam Indonesia Menalar!

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top