Marsiadapari, memahami gotong royong dalam tradisi suku Batak Toba

Pancasila adalah dasar negara indonesia yang terdiri atas lima sila. Nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila ini tidak tidak dapat dipisahkan karena seluruh sila dalam pancasila tersebut merupakan suatu kesatuan.sila persatuan didasari oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, serta mendasari sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pancasila yang dibuat sebagai dasar negara ini juga dibuat untuk dijadikan sebagai gambaran untuk mencapai tujuan dan cita-cita negara.persatuan indonesia dalam sila ketiga merupakan salah satu yang sangat dibutuhkan rakyat dan Negara baik dalam bidang agama,ekonomi, politik maupun bidang sosial dan budaya. Nilai persatuan itu didorong untuk mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah Negara yang merdeka dan berdaulat.indonesia sangat mendorong untuk mewujudkan persatuan indonesia karena beragamnya suku, budaya atau etnis.

Salah satu sikap yang dapat mempertahankan kesatuan indonesia adalah gotong royong.gotong royong ini terkandung dalam sila ketiga “Persatuan Indonesia” dan terkait dengan sila ke lima “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Gotong royong dapat kita definisikan suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama dan bersifat sukarela sehingga kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan lancar, ringan, mudah dan cepat. Kegiatan gotong royong memiliki banyak manfaat baik bagi sesama maupun negara yaitu: dapat terjalinnya rasa solidaritas dalam lingkungan masyarakat, tumbuhnya ketentraman dan kedamaian antar sesama karena saling membantu,serta tidak mengenal perbedaan karena sudah menganggap satu kekeluargaan.nilai yang terkandung dalam gotong royong adalah kebersamaan, rela berkorban, tolong menolong, dan sosialisasi.

Menciptakan suatu yang baik dan melestarikan hal tersebut bukanlah suatu yang mudah
untuk dijalankan, salah satunya dalam bidang semangat gotong royong ditengah masyarakat. Sikap gotong royong adalah salah satu ciri khas bangsa indonesia,namun kebanyakan gotong royongnya hanya bersifat untuk keamanan dan ingin mendapat keuntungan, bukan karena rasa kekeluargaan ingin membantu. Mulai memudarnya rasa sosial yang tertanam di masyarakat, baik wilayah di pedesaan maupun di perkotaan menimbulkan sikap gotong royong juga semakin berkurang. Namun bagaimana dengan budaya suku Batak Toba?apakah mereka juga sudah kehilangan sikap rasa gotong royong antar sesama? Disini kita akan membahasnya bersama.

Budaya Batak Toba

Budaya adalah suatu kebiasaan atau cara hidup yang terdapat pada sekelompok masyarakat yang berkembang dan diwariskan secara turun temurun dari nenek moyangnya hingga kegenerasinya sekarang.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pengertian kebudayaan adalah buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terdapat dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam, yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya, guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Suku Batak merupakan salah satu suku yang masih berkembang di indonesia. Suku Batak ini memiliki beberapa kategori yaitu: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Suku Batak Toba ini bermukim dan berasal dari Tapanuli Sumatera Utara. Kerajaan Batak Toba dipimpin oleh pemerintahan Sisingamangaraja dengan membagi kerajaan batak itu menjadi 4 bagian yaitu : Raja Maropat Silindung, Raja Maropat Samosir, Raja Maropat Humbang, dan Raja Maropat Toba.

Sejak dahulu kala dan sampai sekarang dibeberapa daerah suku Batak Toba hidup dalam
organisasi yang memiliki norma -norma disebut dengan Adat, Patik, dan Uhum. Dalam masyarakat Batak Toba ada beberapa istilah yang ditujukan untuk menyatakan kesatuan wilayah yaitu Huta, Lumban, dan Sosor. Huta merupakan kesatuan daerah yang dihuni oleh keluarga yang berasal dari satu klan/ marga. Selanjutnya, Lumban berarti suatu wilayah yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang merupakan warga dari satu bagian klan, sedangkan Sosor adalah suatu wilayah yang dihuni oleh keluarga yang merupakan warga dari keturunan pendiri Huta.

Suku Batak Toba tepatnya di kabupaten Humbanghasundutan, kecamatan Parlilitan dan daerah sekitarnya memiliki kebiasaan atau kebudayaan gotong royong yang terkait dalam sila ketiga pada Pancasila. Kegiatan gotong royong ini dikenal dengan kata Marsiadapari. Kegiatan Marsiadapari atau jika dibahasa Indonesiakan mengandung makna gotong royong ini, merupakan sebuah tradisi Batak Toba yang turun temurun dilakukan mulai dari nenek moyang dulu dan sekarang masih ditemukan dan dilaksanakan di tanah Batak Toba. Diberbagai daerah tanah Batak ini memiliki banyak istilah gotong royong yakni: Marsiadapari, Marsirippa atau Marsirumpan. Istilah-istilah tersebut memiliki tujuan dan dan cara kerjanya sama. Suku Batak memang memiliki banyak kisah kehidupan ompung (nenek moyang) tentang bagaimana mereka bermasyarakat, bertani dan membangun kekerabatan/kekeluargaan. Dari kisah-kisah kehidupan mereka itulah yang menjadi
awal terciptanya/terlahirnya sebuah tradisi, budaya, dan kearifan lokal.

Tradisi gotong-royong telah menjadi bagian dari praktik kehidupan masyarakat Batak Toba untuk mengurangi persoalan hidup yang mereka lewati sejak mulai zaman dahulu. Tradisi gotong-royong pada hakikatnya merupakan warisan leluhur bangsa indonesia dengan variasi istilah dan penerapannya. Meskipun istilah dan penerapannya bervariasi, pada hakikatnya semua menyangkut gotong-royong selalu berkaitan dengan memadukan potensi, tenaga, sumber daya dan sumber dana secara bersama-sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Marsiadapari dapat didefinisikan suatu sistem bekerjasama ( gotong royong) yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa/ rumpa) secara bergiliran supaya pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.

Cara memjalankan tradisi Marsiadapari ini adalah dengan menggunakan hitungan sistem
hari.misalkan satu hari si X bekerja di ladang si Y,maka hari berikutnya si Y harus membayar bekerja satu hari di ladang si X.pada umumnya kegiatanan ini memiliki pekerjaan yang sama antara sipihak X dan Y.contoh si X bantu si Y dalam mencangkul sawah,maka Y juga membantu si X dalam kegiatan mencangkul.namun jenis pekerjaan ini tidak lah harus saling sama. Mereka dapat saling membalas bantuan ini dengan kegiatan lain dengan jumlah hari yang sama. Jika X membantu si Y selama tiga hari, maka si Y juga membantu si X selama 3 hari.kegiatan Marsiadapari ini biasanya dilaksanakan ketika ada pekerjaan yang relatif berat dan membutuhkan waktu yang
panjang seperti, mencangkul (mamakkur), menanam (marsuan), membersihkan rumput awal dan berikutnya di sawah maupun diladang darat (marbabo), panen, mendirikan rumah (pajongjong jabu sibagandingtua), kemalangan (marsitaonon) dan masih banyak lagi. Marsiadapari ini bisaberanggotakan banyak ditambah dengan keluarga dari tuan rumah.

Ada beberapa tata aturan atau kebiasaan dalam pelaksanaan Marsiadapari ini, namun aturan ini tidaklah bersifat wajib untuk dilakukan. Pada waktu sekitar pukul 11.30 WIB (siang hari) akan ada acara makan sajian roti dan minum yang disediakan oleh pihak pemilik ladang. Seperti biasa sajian yang disukai oleh Batak Toba yaitu kopi, teh manis dan lappet ( kue beras ketan yang dibagian tengahnya berisi kelapa dan gula merah). Setelah istirahat sekitar setengah jam beristirahat, mereka akan kembali mulai bekerja lagi. Sistem kedua adalah tentang makan siang. Bagian penyedia makanan untuk makan siang biasanya berbeda-beda pelaksanaannya, yaitu ada yang membawa bekal makan masing-masing, dan ada juga yang pelaksaan makan siangnya disediakan oleh pihak pemilik sawah/ladang. Banyakan tradisi Marsiadapari ini pada bagian makan siang masing- masing orang akan membawa bekal makannya. Namun tuan rumah biasanya tetap menyediakan lauk istimewa untuk dibagi bersama yaitu ayam kampung. Berdasarkan wawancara dengan seseorang yang berasal dari Batak Toba, mengatakan dengan disajikanya ayam potong maka segala pekerjaan yang sedang mereka kerjakan akan berbuah baik. Dengan adanya sajian yang enak, juga tentunya akan memotivasi
orang orang untuk bekerja keras bersama-sama.

Seiring berubahnya zaman, kegiatan Marsiadapari ini semakin berkurang karena berkembangnya teknologi yang dapat digunakan sebagai barang pembantu bertani. Misalnya dengan munculnya traktor atau jetor, serta mesin panen, maka tenaga kerja yang dibutuhkan untuk bertani berkurang. Hal ini membuat kegiatan gotong royong (Marsiadapari) juga akan semakin jarang terlihat.

Dibeberapa daerah Batak juga melakukan kegiatan Marsiadapari dalam acara adat seperti
perkawinan(mangoli), kematian (monding),dan marhobas (mempersiapakan acara/pesta). Misalnya kegiatan gotong royong yang dilakukan dalam acara adat Batak Toba adalah menjalankan boras liat (beras disumbangkan bergilir), indahan liat (sumbangan nasi bergilir), dan jula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras, dan daging) kepada pemilik pesta. Ada juga bentuk lain yaitu manumpahi. Manumpahi merupakan suatu kegiatan memberi bantuan baik berupa uang atau beras (si per ni tondi) untuk meringankan beban si pemilik atau tuan rumah pesta adat. Untuk membalas budi baik mereka, si pemilik pesta tersebut akan menyumbangkan sesuatu juga, saat mereka yang sudah menyumbang terlebih dahulu melaksanakan upacara adat/pesta.

Suku Batak juga turut dalam bergotong-royong jika ada kejadian bencana yang terjadi dalam daerah mereka. Hal inilah yang mempererat hubungan kekeluargaan mereka yang mau bergotong royong.

Kontributor: Lija Santia Mahulae

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top