Kedangkalan Religius dan Pendidikan Karakter

Dalam sebuah kesempatan ngobrolan khas cafe di tahun 2020, seorang teman berkata, “saya tidak tahu apakah benar ada surga dan neraka atau tidak. Tetapi, saya minta Tuhan dimana pun saya kelak, asalkan  jangan di tempat yang sama dengan Riziek.” Bagaimana bisa? Padahal teman itu seorang Muslim taat, dan Riziek adalah habib, yang oleh banyak pihak dijadikan figur ideal Muslim dengan segala simbol kebesaran keagamaan yang melekat padanya, juga seperti diteladankan melalui penampilan istri, anak-anak, mantu, cucu-cucu, bahkan para pengikutnya?

Obrolan santai di atas saya gunakan bukan untuk menyerang personalitas Riziek Shihab, melainkan untuk menjelaskan sebuah  fenomena yang sedang dihadapi bangsa ini. Riziek, FPI, HTI, dan bentuk sejenis lainnya hanya gejala permukaan, sedangkan di kedalamannya terdapat akar soal yang lebih serius.

Sekolah-sekolah yang mewajibkan siswi-siswinya berjilbab, tentu bukan hanya di Padang tetapi seperti beredar di media terdapat juga di tempat lain. Ini merupakan bagian kecil dari permasalahan besar yang masih tersembunyi. Namun, untuk jangka pendeka fenomena permukaan ini tetap butuh diatasi bila tidak akan makin berbuahpinak, akhirnya menjadi realitas sosial yang menuntut diakomodir sebagai bagian dari ke-Indonesiaan. 

Umum mengaitkan kewajiban berjilbab dengan tindak intoleransi lantaran siswa non-muslim pun tidak dikecualikan. Tapi menurut saya masalahnya lebih mendasar dari itu, yakni sebagai kejahatan pemaksaan yang bersinggungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

Tidaklah mengherankan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim selain mengkritik keras juga menyebut perintah mewajibkan siswi berjilbab itu tidak sesuai  dengan Pancasila. Bukan  berjilbab itu yang tidak sesuai, baik dengan HAM maupun Pancasila,  melainkan pemaksaan, yang menurut saya juga tidak  sesuai moral agama manapun.  

Kasus itu menggambarkan fakta kedangkalan beragama kita. Prof. Franz Magnis-Suseno kerap menyebut dengan overdosis beragama, dimana ruang publik disesaki simbol-simbol agama namun miskin karakter baik. Tetapi, rasanya kasus tersebut menampar bukan hanya wajah keber-agama-an melainkan juga wajah pendidikan kita. Dua institusi yang bertanggungjawab atas pembentukan karakter dan kecerdasan umat manusia.

Kita tidak sedang hidup di zaman dimana seseorang, meski anak sekolahan boleh dipaksa mengikuti sesuatu yang bukan identitasnya.  Bagi yang memaksa itu barangkali baik, tetapi belum tentu bagi yang dipaksa. Apapun itu, pemaksaan kepada orang lain tidak dapat dibenarkan. Saya bukan keberatan dengan hal berjilbab, melainkan dengan pemaksaannya, baik kepada siswi muslim maupun  (apalagi) non-muslim. Tetapi bila atas kerelaan sendiri, biarpun seorang siswi non-muslim memilih mengenakan jilbab itu tidak masalah.

Kita sama tahu ini bukanlah kasus pertama. Seperti banyak beredar di media ternyata sudah jadi aturan di Padang, juga di banyak wilayah di Sumatera Barat. Sumber lain menyebutkan terjadi di Provinsi lain di Indonesia. Saya mau mengingatkan bentuk lain “persekusi iman” agar kita mendapat gambaran lebih utuh. Tahun lalu sempat viral pesan di grup medsos dari seorang guru meminta siswa-siswi tidak memilih kandidat ketua OSIS yang non-muslim di sebuah sekolah di Jawa barat. Tahun 2016 seorang siswa SMK di Jawa Tengah tidak naik kelas lantaran menolak mengikuti kelas Agama Islam, mengingat dia sendiri penganut Penghayat Kepercayaan. 

Berbagai kasus di atas menggambarkan permasalahan sangat serius di bangsa ini, dimana standar religiusitas diukur sekadar pada simbol-simbol permukaan. Dibaliknya tercermin kualitas keberagamaan serta kematangan intelektual kita. Inilah yang saya sebut sebagai kedangkalan; baik secara religius maupun intelektual  sebab keduanya saling menjelaskan.

Kalau orang kenakan jilbab pertanda religius dan soleh.  Yang kenakan pakaian-pakaian gamis, pria dengan penampilan berjenggot, fasih melafalkan ayat-ayat suci, titik hitam menonjol di jidad,  kerab ungkapkan frasa-frasa Arab atau kearab-araban, itu pertanda tingkat keimanan tinggi. Bagi yang Kristen,  mengenakan kalung salib, rajin ke gereja, ungkapan-ungkapan dengan asosiasi keagamaan, dan sejenisnya sebagai tanda beriman.  

Dengan cara berpikir dangkal seperti itu lalu diartikulasikan sebagai bentuk pendidikan karakter.  Sekolah menerjemahkan  pendidikan karakter dengan menghadirkan simbol-simbol agama dan siswa-siswi dipaksa berpenampilan sebagaimana dipahami sebagai standar beragama.  Semakin kental dan menonjol simbol agama diragakan, semakin berkualitas karakter ditanamkan.  Seolah-olah orang berjilbab sudah pasti soleh.   

Cara beragama yang dangkal ini cenderung menciptakan orang-orang munafik. Berapa banyak koruptor  atau jenis kriminalis lainnya yang secara simbolik sangat religius?  Lihatlah betapa vestifal religiusitas terlihat masif diobral panggung-panggung konstetasi politik, tapi apakah menghasilkan pejabat dan wakil rakyat yang benar-benar berkatakter seperti dikesankan sewaktu kampanye? 

Dibalik “keunggulan menggunakan simbol” tersimpan intrik manipulasi dan hasrat kuasa yang besar untuk mendomiansi orang lain. Saya harus mengambil contoh organisasi FPI, HTI, dan sejenisnya yang dalam banyak aksinya menempatkan diri sebagai “pemilik surga” untuk mendikte orang lain.  Mereka tidak segan lakukan swiping di bulan puasa untuk memastikan semua orang, tidak peduli seagama atau tidak, ikut “berpuasa.”  Bahkan, pemahaman yang berbeda meskipun  sesama Muslim,  oleh mereka dianggap kafir.

Semua tindakan mereka selalu mengatasnamakan Tuhan. Hanya karena “unggul” dalam penampilan luar itu mereka merasa berhak mewakili Tuhan, meski tidak terlihat ”sifat-sifat dan karakter Tuhan” dalam perilaku mereka. Tuhan yang oleh semua agama dikenali sebagai maha Pencipta dan Pengasih, maha Adil, maha Baik, dan sejenisnya itu terlihat bertolakbelakang dengan apa yang diragakan.  Bukankah cara beragama seperti di atas jutsru merendahkan martabat agama, dan menghina Tuhan, sang Baik itu? 

Kedangkalan ini harus diakhiri.  Ini sebuah kemunduran yang menyedihkan. Seolah-olah kita terlempar kembali ke abad kegelapan ketika semuanya dikontrol olah ulama.  Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah pun terlihat sudah menyadari bahwa simbol-simbol keagamaan  menyembunyiklan semangat pembodohan. Keran kebebasan dibuka. Itulah sebabnya, dalam kekiniannya negara-negara tersebut terlihat penuh kerlap-kerlip, keterbukaan yang membebaskan, lalu menikmati  hidup dalam kebebasan ekspresi. 

Ade Armando, youtuber dan juga dosen UI yang berasal dari Padang terlihat menunjukkan “kegeraman intelektualnya” dengan memberi kritik sangat keras atas kasus SMK 2 Padang itu. Ia mengaitkan Sumatera Barat di masa lalu yang melahirkan banyak tokoh intelektual dan ulama kredibel, antara lain proklamator Moh.Hatta, Sutan Syahrir, Buya Hamka, Muh.Yamin, Tan Malaka dan masih banyak lagi. Foto-foto keluarga mereka tidak menunjukkan tanda-tanda “religius” dalam pengertian dangkal, misalnya mengenakan jilbab. Seorang habib sangat terhormat macam Prof. Quraish Shihab pun tidak memandang jilbab sebagai ukuran kadar keimanan. Seperti terlihat dari penampilan anaknya Najwa Shihab yang mengatakan ayahnya tidak pernah mewajibkan berjilbab.

Sekolah adalah gambaran masyarakat masa depan. Sekolah-sekolah seperti kasus di SMK 2 Padang itu berpotensi melahirkan massa yang ganas seperti pengikut FPI dan HTI, dua organisasi yang  telah dinyatakan terlarang di Indonesia. Tidak dapat diharapkan lahirnya manusia intelek dan berkarakter dari sekolah-sekolah macam itu.  

Menurut saya, pembentukan karakter seharusnya dilakukan dengan mengajari dan membentuk anak-anak agar berdisiplin mengembangkan nalar kritis, bersikap jujur, kerjasama tim dan saling menolong, murah hati (bersikap dermawan), berani berpendapat, patriotisme dan cinta negeri, toleran (dalam pengertian saling menghormati dalam perbedaan), peka dan memprioritaskan teman difabel (berkebutuhan khusus) atau yang lemah, membuang sampah pada tempatnya, dan sikap sejenis lainnnya.

Bukankah substansi seperti itu juga menjadi inti moral dari semua agama? Dan, apabila seorang guru menunjukkan sikap-sikap seperti itu, bukankah dia akan dijadikan model oleh murid-muridnya, dan pada saat itu ia telah secara tak langsung mendakwakan agamanya secara substantif?

Sebab, karakter harus dibentuk dengan keteladanan tindak, bukan pemaksaan simbol!

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top