Dialog antara huruf dan angka

Pandemi Covid-19 berdampak hingga sedikit menganggu kondisi keuangan keluarga Ibu Budi.

Melihat kondisi itu, Ibu Budi yang punya hobi membuat panganan gorengan beraneka jenis, berinisiatif memanfaatkan hobinya untuk mendapat pemasukan tambahan. Ibu Budi mulai memasak pisang goreng, tempe goreng cricpy, tahu isi. rolade, singkong goreng, donat, dan lainnya. Selanjutnya ia menawarkan kekenalannya via media sosial.

Pada hari pertama menjalankan bisnis dadakan ini, kue-kuenya laris manis dipesan banyak orang.

Keesokan harinya ia mulai lagi posting, gambar-gambar kue yang akan dimasaknya, sehingga orang-orang sudah mulai bisa memesan.

Mince melihat postingan ibu Budi, langsung chat meresponnya “Selamat siang bu, kue-kuenya harga berapa?”

Ibu Budi langsung membalas, “Rolade dua ribu tiga, tempe/ tahu goreng dua ribu dua, donat dan lainnya dua ribu satu.”

Mince membacanya langsung membalas, “Ibu, biarpun murah, tapi itu kue sudah kadaluarsa semua.”

Ibu Budi yang membaca balasan Mince langsung marah, karena dianggapnya bisa mengganggu bisnisnya. Ibu Budi langsung membalas, tanpa pikir panjang, “Eehh.. Mince, jangan sembarang berbicara anda. Ini menyangkut harga diri saya. Ini kue baru pagi ini saya buat semua. Mengapa anda bilang sudah kadaluarsa?”

Mince pun membalas komen dari Ibu Budi, “Ibu sendiri yang bilang, Rolade 2003, tempe/tahu 2002, donat dan lainnya 2001, bukannya itu sudah lama?”

Ibu Budi pun langsung membalas, “Anda jangan membodohi saya. Apakah anda mau saya menawarkan kue-kue saya dua ribu dua puluh??!! Bisa bangkrut saya.”

Mince menjadi bingung dan prihatin membaca balasan bu Budi.

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top