Bahaya Media Sosial yang Tidak Disadari

Kemajuan teknologi informasi pada bidang komputer dan internet menghadirkan media sosial yang kini telah memberikan banyak dampak positif bagi kemajuan kehidupan manusia. Perlu digaris bawahi, dibalik kelebihan dan kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial ternyata memiliki sisi gelap yang dapat menghancurkan kehidupan manusia. Kemajuan media sosial saat ini telah menjadi pedang bermata dua karena selain memberikan manfaat bagi manusia, media sosial juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk dilakukannya perbuatan yang tidak bertanggung jawab oleh oknum-oknum tertentu. Dalam era digital 4.0 saat ini, media sosial bukanlah sesuatu yang baru. Kehadiran media sosial yang membawa begitu banyak dampak positif, seringkali membuat kita menjadi buta atau bahkan acuh akan sisi gelap dibalik segala kemudahan yang diberikan oleh media social itu sendiri.

Media sosial adalah alat bantu dalam menyampaikan informasi dari seseorang kepada seseorang lainnya atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan individu ataupun tujuan bersama kelompok. Untuk lebih jelasnya, sebagaimana dikemukakan Nasrulla dalam buku Media Sosial (2016:8) bahwa media sosial dapat dilihat dari perkembangan bagaimana hubungan individu dengan perangkat media.

Dan menurut Van Dijk (2013), yang dikutip oleh Nasrulla dalam buku media sosial (2016:11), bahwa media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu, media sosial dapat dilihat sebagai medium atau fasilitator online yang menguatkan hubungan antar pengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial.

Berbagai definsi dari Dr. Rulli Nasrullah, M.Si dalam buku media sosial (2016:13), menyimpulkan bahwa media sosial merupakan medium di internet yang memungkinkan penggunanya mempresentasikan atau menggambarkan siapa dirinya maupun berinteraksi, bekerjasama, saling berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lainnya dan membentuk ikatan sosial. Dari berbagai pengertian media sosial diatas, perlu digaris bawahi bahwa media sosial mempunyai ciri khas tersendiri, dalam kaitannya dengan setiap manusia yang melakukan hubungan sosial di zaman perkembangan teknologi komunikasi saat ini.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Semakin banyaknya pengguna media social, hal ini pun akan menghadirkan bahaya bermedia sosial yang tak kita sadari.

Media sosial yang merupakan ruang publik memungkinkan penggunanya untuk melihat, mengupload atau mengunggah apapun sesuai dengan keinginan pengguna tanpa adanya batasan yang diberi oleh media sosial. Hal ini memungkin para pengguna untuk memberikan segala informasi tentang kehidupannya di media sosial. Disayangkan, media sosial yang sebagaimana adalah ruang publik seringkali digunakan oleh penggunanya untuk mengunggah persoalan pribadinya untuk diketahui oleh semua orang, demi untuk mendapatkan attention atau perhatian dari pengguna media sosial lainnya.

Bahaya media social yang sering kita jumpai dan temui saat ini ialah hate comment di postingan seseorang, bullying, pencurian data atau identitas orang lain untuk mendapat keuntungan, penyebaran hoax atau fake news yang tidak ada hentinya dan juga candu untuk terus-menerus berselancar di dunia maya atau media sosial. Bahaya-bahaya ini sangatlah dekat dan juga mungkin sebagian dari kita mengalami hal tersebut namun seakan tidak terjadi apa-apa dan merasa baik-baik saja karena kita menikmati setiap konten yang disajikan dalam media social.

Candu akan media sosial menjadi salah satu yang paling krusial dari bahaya media sosial lainnya, Hal ini dikarenakan candu akan media social tidak membawa dampak langsung untuk fisik penggunannya, sehingga hal ini seringkali diabaikan. Media sosial tidak hanya mengarahkan penggunanya secara sadar, tapi sistemnya berusaha masuk jauh kedalam batang otak manusia dan menanamkan kebiasaan secara tak sadar didalam diri manusia dan inilah yang membuat kita tanpa sadar berada didalam media sosial selama berjam-jam.

Pengguna media sosial tidak sadar bahwa segala aktivitas yang dilakukan olehnya pada media social seperti melihat postingan seseorang dan berapa lama kita mengaksesnya sudah diawasi, dilacak, serta diukur oleh sistem media sosial tanpa memperdulikan dampak apa yang akan dialami oleh penggunanya. Semua data atau informasi yang kita berikan ke media sosial akan dimasukan dalam sistem yang nyaris tak diawasi oleh manusia, yang kemudian data dan informasi itu digunakan untuk membuat prediksi tentang apa yang kita lakukan dan akan bersama siapa kita (Parakilas, S : Facebook Former Operations Manager and Uber Former Product Manager). Selain untuk memprediksi kehidupan user-nya, sistem yang dimiliki oleh media sosial juga mengolah semua aktivitas berinternet kita untuk meningkatkan lagi model yang lebih akurat untuk memprediksi aktivitas penggunanya.

Banyaknya aktivitas pengguna yang telah terekam oleh sistem media sosial memudahkan para teknisi untuk membuat penggunannya tetap berada di platform media sosial. Salah satu contohnya ketika kita menonton salah satu konten atau video di Youtube yang menurut kita menarik, akan muncul rekomendasi-rekomendasi video lain yang sekiranya mirip atau melibatkan konten kreator yang ada pada video yang kita nonton sebelumnya sehingga tanpa sadar itu memicu atau mengendalikan alam bawah sadar kita untuk tetap menonton karena adanya rasa tertarik.

Manusia sebagai pengguna media sosial mengira pengunaan media sosial itu gratis, tapi sebenarnya tidaklah gratis. Kita membayarnya dengan pengiklanan yang ditampilkan pada platfrom-platfrom yang kita guanakan seperti; Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, dan Youtube. Media sosial bukanlah alat yang menunggu untuk digunakan, melainkan ia mempunyai tujuan dan cara tersendiri untuk memperolehnya. Salah satu contoh caranya dengan memberikan notifikasi atau pemberitahuan ke ponsel kita, dan secara langsung kita akan membuka notifikasi atau pemberitahuan tersebut, sehingga penggunannya akan tetap terus terikat dengan handphone atau gadgetnya untuk menantikan notifikasi atau pemberitahuan-pemberitahuan lainnya. Ini dilakukan oleh teknisi media sosial untuk menjamin terus munculnya iklan sehingga mereka akan mendapatkan keuntungan. Hal itu ditenagai oleh algoritma sistem yang bertugas mencari tahu apa yang harus ditampilkan kepada pengguna sehingga harga iklannya terus naik dan tim teknisi dibalik sistem sosial media mendapatkan keuntungan yang lebih besar (Harris, T : Google Former Design Ethicst, Center for Humane Technology)

Media sosial yang pada awalnya diciptakan untuk menjadi penghubung antar satu dengan yang lain, dan juga untuk sebagai sumber berita yang akurat kini telah menjadi momok bagi penggunanya. Adanya orang-orang dibelakang media sosial yang ingin meraup banyak keuntungan, menjadikan kemajuan teknologi ini untuk berusaha masuk ke alam bawah sadar pengguna media sosial untuk mengontrol aktifitas penggunanya.

Kemajuan teknologi informasi khususnya media sosial yang sangat pesat tentu memberikan banyak dampak baik yang berguna bagi kehidupan penggunanya. Namun dibalik sisi baiknya media sosial, tidak bisa dipungkiri memiliki sisi gelap yang sering kali tidak disadari atau bahkan diacuhkan oleh penggunannya. Maka dari itu, pengguna media sosial harus tetap berhati-hati dengan kemudahan yang diberi oleh media sosial sehingga data-data yang kita miliki tetaplah aman, dan juga real life atau kehidupan nyata kita tidaklah diatur bahkan dikendalikan oleh media sosial. Karena seharusnya kitalah yang mengendalikan media sosial itu agar sesuai dengan keinginan kita, bukan kita yang dikendalikan oleh media sosial untuk menjadi produk mereka dan menjual kita ke pengiklanan dan meraup banyak keuntungan dari situ.

Dengan demikian, selanjutnya yang dapat dilakukan oleh pengguna media sosial adalah dengan membatasi penggunaan media sosial serta lebih berhati-hati dalam membagikan informasi kehidupannya ke dalam media sosial sehingga tidak terjadinya pengendalian yang dilakukan oleh media sosial kepada penggunannya. Solusi alternatif yang dapat diberikan adalah perlunya memperhatikan kurikulum terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), agar tidak hanya berfokus kepada kecerdasan intelektual saja, tetapi juga terhadap kecerdasan emosional agar pengguna media sosial dapat dan bisa bijak dalam menggunakan media sosial. Hal yang dapat dilakukan adalah perlunya sosialisasi yang dilakukan oleh pakar IT (Information Technology) bagi pengguna media sosial. Selain itu, diperlukan juga peran orang tua sebagai mediator atau fasilitator dalam memberikan edukasi serta pengawasan kepada anak atau remaja yang sekarang ini sedang menikmati indahnya berselancar di media sosial dalam pengunaannya sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Kontributor: Christine Mayasamy Pentury

0Shares

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top